Pengamatan Lapangan Longsoran di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang 12 Januari 2021

Oleh: Indra Andra Dinata, Jevon Albern, dan Hasan Tri Atmojo

Penyunting: Dasapta Erwin Irawan dan Imam Achmad Sadisun

Kegiatan lapangan ini merupakan survei pendahuluan oleh Kelompok Keilmuan (KK) Geologi Terapan (KKGT) yang dilakukan untuk memahami kejadian longsoran yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Tim penulis berangkat dari Bandung pada tanggal 12 Januari 2021 pagi, tiga hari setelah longsor yang menyebabkan 24 korban meninggal dunia dan 16 orang masih dalam pencarian (Kondisi 14 Januari 2021).Longsoran terjadi sebanyak empat (4) kali, longsoran pertama terjadi pada hari Sabtu 9 Januari 2021 pukul 15.30 dengan jenis longsoran rotasional. Longsoran terakhir terjadi pada hari Minggu pukul 03.30 dengan jenis aliran bahan rombakan (atau debris flow). Bahan rombakan adalah campuran material padat, air, dan udara yang mengalir sebagai aliran cair yang bergerak dengan cepat ke dataran yang lebih rendah. Aliran bahan rombakan memiliki tiga bagian, yaitu area sumber (source area), yaitu tempat asal material material; jalur aliran (flow track) atau jalur perjalanan aliran material; dan area pengendapan (run-out lobe/depositional area) atau tempat berhentinya aliran longsoran (Gambar 1a dan 1b).

Gambar 1a Geometri dari aliran bahan rombakan (peta aerial dari U-inspire).
Gambar 1b Sketsa aliran bahan rombakan (debris flow) (Wikimedia CC0)

Longsoran pertama diperkirakan memiliki gawir (tebing) sepanjang 20 m dan panjang 45 m. Longsoran keempat (aliran bahan rombakan) diperkirakan memiliki gawir sepanjang 50 m dan panjang 120 m. Tebing longsoran yang baru terbentuk di belakang tebing longsoran yang sebelumnya, atau bergerak mundur (retrogressive). 

Berikut ini adalah kronologi proses longsoran, hasil pengamatan di lapangan:

  1. Adanya hujan sangat lebat yang terjadi lokasi tersebut pada hari Sabtu 9 Januari 2021. Ada saluran drainase mampet, sehingga terjadi genangan. Genangan dalam jumlah besar menyebabkan naiknya tekanan pori naik lebih dengan cepat. Tekanan pori adalah tekanan fluida dalam pori-pori batuan bawah permukaan. Saat tekanan pori meningkat, maka butiran tanah akan saling menjauh. Akibatnya ikatan antar butirnya melemah. Bila ini terjadi terus-menerus, maka material tanah akan menggelincir mengikuti kemiringan lereng.
  2. Kondisi lereng yang sebenarnya sudah kritis mengalami kenaikan tekanan pori yang cepat/tiba-tiba mengakibatkan longsoran pertama (di lereng bekas jalur alat berat) dengan jenis rotasional (Gambar 2). Longsoran pertama menyebabkan 8 korban jiwa. 
  3. Lereng di bagian atas kehilangan massa penahan lereng karena massa tersebut telah longsor. Hal tersebut menyebabkan lereng di bagian atas menjadi tidak stabil dan terjadi longsoran susulan. Tercampurnya material longsor yang baru (padat) dengan material jenuh (longsoran pertama) membentuk aliran bahan rombakan. Kejadian aliran bahan rombakan ini menyebabkan lebih banyak korban (32 orang) karena pergerakannya yang lebih cepat dan volume yang lebih besar.
  4. Longsoran ketiga dan keempat menyusul dengan mekanisme mirip dengan longsoran kedua dengan jenis aliran bahan rombakan.
Sketsa longsor rotasional (Wikimedia CC0)
Sketsa tentang peningkatan tekanan pori yang dapat menyebabkan longsor (Wikimedia CC0)

Berikut ini video penjelasan secara visual tentang tekanan pori.

Tautan ke video Youtube: https://youtu.be/Bj-_5BQreb4

Kami memperkirakan area tersebut masih punya potensi longsor susulan, dengan adanya bukti dua retakan yang sejajar dengan arah tebing disebabkan oleh tarikan longsoran sebelumnya. Retakan pertama menerus dari area sumber material hingga 3 m ke ke arah timur dan menembus dinding serta pondasi rumah (lebar 2 cm). Retakan itu dapat menjadi tempat meresapnya aliran drainase permukaan yang berarah timur-barat (Gambar 3). Retakan kedua berada 7,35 m di belakang area sumber material dan menembus pondasi rumah (lebar 3 cm). Retakan-retakan lain juga ditemukan pada rumah-rumah di sebelah utara area sumber dengan lebar yang lebih kecil (± 3 mm). 

Gambar 3 Rekahan yang berada di belakang mahkota longsoran.

Berita Terkait

EnglishIndonesia