Bahaya Longsor Susulan

Oleh: Dr. Imam A. Sadisun

Dimuat pertama kali di Harian Pikiran Rakyat edisi cetak, Senin 18 Januari 2021

Semua seakan dibuat terhenyak ketika mendengar Danramil Cimanggung dan Kasi BPBD Sumedang gugur pada saat melakukan pencarian korban akibat kejadian longsoran pada hari Sabtu sore, 9 Januari 2020 di Dusun Bojongkondang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang.

Pada sore itu, diperkirakan terdapat 8 korban jiwa tertimbun material longsoran yang terjadi sekitar pukul 15:30 WIB. Lalu, pencarian atas korban pun dilakukan oleh petugas gabungan dari Kabupaten Sumedang. Waktu kian larut saat pencarian dilakukan, longsoran susulan secara tiba-tiba terjadi. Banyak petugas yang tidak sempat menghindar dari material longsoran susulan ini. Akibatnya, mereka menjadi korbannya. Tercatat sebanyak 32 korban, termasuk Danramil Cimanggung dan Kasi BPBD Sumedang.

Longsor  

Pada hakekatnya, setiap lereng memiliki potensi untuk longsor. Longsoran akan terjadi apabila sistem lereng tersebut terganggu kesetimbangannnya. Lereng yang terjal, umumnya lebih mudah longsor, oleh gaya gravitasi yang semakin kuat.

Dalam proses terjadinya longsoran, peran material-material pembentuk lereng pun tidak kalah penting. Tanah yang lunak atau gembur umumnya lebih mudah longsor. Terlebih lagi bila tanah tersebut berada di atas tanah yang keras atau bahkan batuan.

Selain lereng dan material pembentuknya, banyak faktor lain yang sebagian di antaranya akibat ulah kita semua, seperti penggalian pada lereng-lereng yang terjal dan penggundulan hutan. Ada pula faktor lain yang seringkali dikenal sebagai faktor pemicu, seperti curah hujan yang tinggi dan gempabumi atau getaran-getaran kuat lainnya.

Lalu, mengapa ada longsoran susulan? Setiap terjadi longsoran, maka lereng-lereng baru pasti terbentuk. Lereng yang paling terjal dikenal dengan istilah gawir longsoran dan di bagian atasnya dikenal sebagai mahkota longsoran. Pada lereng inilah biasanya longsoran terjadi kembali, sebagai longsoran susulan. Longsoran susulan ini seringkali terus berlanjut ke arah mahkotanya. Tidak hanya di bagian mahkotanya saja, longsoran susulan bisa saja terjadi di lereng sisi kiri dan kanan longsorannya. 

Tampak jelas bahwa longsoran Cimanggung tidak hanya sekali kejadian. Banyak saksi mata mengatakan setidaknya ada empat kali kejadian longsoran. Longsoran pertama terjadi sore hari sekitar jam 15:30 WIB. Beberapa saat setelah longsoran pertama, terjadi longsoran susulan di lereng bagian kiri longsoran utamanya. Longsoran kedua dan ketiga konon hanya terpaut belasan menit saja, yang terjadi antara sekitar jam 19:00 WIB sampai 19:30 WIB. Saat itu, hujan yang terus mengguyur di lokasi kejadian, telah memicu longsoran susulan ini. Pada saat longsoran kedua dan ketiga inilah banyak korban berjatuhan. Longsoran terakhir terjadi pada dini hari berikutnya, sekitar jam 3:30 WIB.  

Longsoran susulan Cimanggung cenderung berkembang menuju arah gawir utama atau mahkotaya. Longsoran pertama diperkirakan memiliki lebar mahkota 20 m, jauh lebih kecil dibandingkan dengan longsoran susulan terakhir, yang membentuk mahkota hingga 50 m lebarnya. Ini berarti volume material yang meluncur pada longsoran susulan, jauh lebih banyak dibandingnya longsoran pertamanya.

Setidaknya terdapat dua retakan di bagian atas mahkota longsoran saat ini. Retakan pertama berjarak 3 m dari mahkota longsoran, yang meretakkan jalan dan dinding rumah penduduk setempat, serta menjadi tempat meresapnya drainase permukaan yang menuju gawir longsoran. Retakan kedua dijumpai pada jarak 7 m, yang seakan memotong rumah-rumah penduduk yang ada. Banyaknya retakan ini sangat jelas menandakan bahwa potensi terjadinya longsoran susulan masih ada.       

Lebih Berbahaya

Dari uraian rangkaian kejadian longsoran di Cimanggung, tergambarkan betapa dasyatnya kejadian longsoran susulan, yang tampak jauh lebih banyak mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan dibandingkan longsoran pertamanya. 

Dari total 40 korban jiwa, sebanyak 32 korban di antaranya akibat longsoran susulan dan seorang meninggal setelah dievakuasi di rumahnya. Hingga saat artikel ini ditulis, yaitu tiga hari setelah kejadian, masih terdapat 24 korban jiwa yang belum ditemukan. Di samping itu, longsoran ini telah mengakibatkan 29 orang mengalami luka-luka, tiga orang di antaranya luka berat dan 26 orang lainnya luka ringan. Terkait dengan kerusakan, tercatat sebanyak 14 unit rumah mengalami rusak berat, satu buah masjid, dan satu mobil ambulan pun tak lepas dari keganasan longsoran ini. 

Belajar dari kejadian ini, kegiatan pencarian atas korban yang belum ditemukan dan penataan terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi, harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Dengan kata lain, jangan sampai kegiatan ini malah akan menambah korban jiwa dan kerusakan selanjutnya. Hal ini ditujang dengan hasil survei lapangan yang sangat jelas memperlihatkan indikasi adanya potensi terjadinya longsoran susulan di tempat ini. Apalagi curah hujan yang tinggi tampaknya masih akan terus mengguyur lokasi ini hingga beberapa bulan ke depan, sebagai salah satu pengaruh La Nina di tahun ini.

Akan kan kita akan membiarkan korban berjatuhan lagi terhadap potensi longsoran susulan selanjutnya? Semuanya pasti tidak berharap. Kita semua semua harus lah yakin, bahwa longsoran maupun susulannya tidak akan menimbulkan bencana. Bencana hanya akan datang dari ketidakmauan kita untuk memahami perilaku longsoran tersebut dan menanganinya dengan baik dan benar.

Imam A. Sadisun (Kapala Lab. Geologi Rekayasa FITB ITB, Koordinator Riset Longsoran PPMB ITB, dan Ketua Masyarakat Geologi Teknik Indonesia IAGI)

Arsip versi cetak

Berita Terkait

EnglishIndonesia