Mari membuat riset kebumian kita lebih “reproducible”

Dominasi administrasi

Dominasi berbagai hal yang administratif telah sering membuat konten ilmiah menjadi terlupakan. Pertanyaan pertama para penulis biasanya adalah:

  • “apakah jurnal ini telah terindeks Scopus atau belum?”
  • “apakah jurnal ini masuk Q1?”
  • dan yang sejenisnya.

Tiga hal di atas terkesan bersifat substantif, tapi sepertinya malah lebih mengarah ke aspek administratif.

Konten ilmiah yang saya maksud di sini bukanlah melulu tentang penyuntingan yang dilakukan oleh penulis, tim peninjau sejawat (peer reviewer), kualitas Bahasa Inggris, ketajaman gambar dll, tapi lebih dalam dari itu, tetapi data dan metode. Dua komponen ini sedemikian penting di dunia luas sampai memiliki indikator sendiri bernama reproducibility untuk menghasilkan riset yang reproducible (reproducible research). **

Tentang bab data dan metode

Setiap memulai riset kita selalu melakukan penelusuran literatur. Komentar yang muncul hampir dapat dipastikan adalah tidak ada data, atau ada datanya tapi harus diplot ulang.

Ketika kami sebut konten ilmiah di atas, yang dimaksud adalah data dan metode. Ada berapa banyak dari kita yang fokus menampilkan dua komponen tersebut dengan tingkat perhatian setinggi saat memperhatikan posisi kuartil jurnal atau Impact Factor jurnal.

When you publish, you get to claim scientific priority for a discovery. In return, you share what you know in sufficient detail so that others can reproduce and build on that discovery. What is surprising is that many papers fail to report experimental procedures in sufficient detail for this to happen. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3097447/

Mungkin ada yang heran dan bertanya, bukankah dalam makalah ada data. Jawabnya bisa iya bisa tidak. Jawabannya iya karena memang ada, dalam bentuk tabel dan peta. Tapi jawabnya juga bisa menjadi tidak pada saat yang sama ketika tabel dan peta data tersebut tidak dapat digunakan ulang oleh orang lain. Jadi sama saja dengan tidak ada.

Setiap makalah pasti menyajikan bab metode, tetapi berapa banyak diantara kita yang menuliskan bab ini dengan tingkat kedetilan yang cukup sehingga observasi dan analisis kita dapat dipahami orang lain dan bisa mengulanginya (bila ia mau). Tingkat kedetilan ini seringkali dibatasi jumlah kata yang dirilis juga oleh jurnal.

There is great concern that results published in a large fraction of biomedical papers may not be reproducible. This article reviews the evidence for this and considers some of the factors that are responsible and how the problem may be solved. One issue is scientific fraud. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022282817303334

Bagaimana caranya?

Sebenarnya caranya sederhana, yaitu: unggah data mentah dan ceritakan apa yang dikerjakan. Masalah unggah data mentah ini juga menuai banyak polemik. Umumnya peneliti akan berargumen kenapa data mentah harus diunggah? Bukankah itu akan memudahkan orang lain menggunakan data itu? Bagaimana bila data dicuri? dst. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan kami disampaikan pada artikel yang berbeda.

Why Methods Matter: The methods section was once the most likely part of a paper to be unfairly abbreviated, overly summarized, or even relegated to hard-to-find sections of a publisher’s website. While some journals may responsibly include more detailed elements of methods in supplementary sections, the movement for increased reproducibility and rigor in science has reinstated the importance of the methods section. Methods are now viewed as a key element in establishing the credibility of the research being reported, alongside the open availability of data and results. https://plos.org/resource/how-to-write-your-methods/

Unggah data mentah

Riset kebumian pasti akan mengandung komponen koordinat dan komponen-komponen pengukuran lainnya. Itu semua pasti dikemas dalam bentuk tabel yang kemudian diolah lebih lanjut dengan berbagai perangkat untuk berbagai kebutuhan. Salah satu luarannya adalah peta. Peta selalu ada dalam artikel tentang kebumian. Tapi tabel data mentahnya jarang, bahkan mungkin tidak pernah ada. Padahal data mentah itulah selalu yang dibutuhkan oleh peneliti lainnya (termasuk para penulis artikel itu) sebagai data sekunder sebagai dasar untuk mengembangkan pengetahuan baru.

Dalam dunia Sistem Informasi Geografis (SIG) peta bukanlah suatu obyek yang dapat dimodifikasi. Berkas SHPnya lah yang dapat digunakan ulang oleh peneliti lain untuk berbagai kebutuhan. Tapi ada berapa banyak peneliti yang melampirkan data SHP di dalam makalahnya?

Ceritakan apa yang dikerjakan

Menulis bab metode sebenarnya sederhana. Anda tinggal menuliskan apa yang telah dikerjakan secara sistematis. Biasanya bab ini dilengkapi dengan diagram alir. Bab metode seringkali dipangkas agar makalah menjadi singkat, sesuai dengan panduan jurnal. Karena dipangkas, maka prosedur riset menjadi terlalu pendek dan sulit untuk diperiksa atau diulang oleh peneliti lain.

Kalau bab metode dirasakan terlalu pendek untuk memenuhi ketentuan penulisan makalah, bagaimana bila bab itu ditulis ulang sebagai dokumen terpisah yang kemudian disitir di dalam makalah utama. Cara ini sudah sering dilakukan di luar negeri. Bahkan banyak jurnal telah menyarankan para penulis untuk mengunggah bab metode sebagai paper protokol terpisah.

Penutup

Artikel ini merupakan ajakan bersama untuk meningkatkan kualitas dari riset dan makalah di bidang kebumian dengan menonjolkan aspek-aspek substantif. Sudah saatnya kita melihat lebih jauh dari sekedar angka-angka metrik (pemeringkatan, kuartil jurnal, Journal Impact Factor dan yang sejenisnya).

Berita Terkait

EnglishIndonesia